JOSINDONESIA

JOSINDONESIA

PENGERTIAN KARSINOMA NASIFARING

Pengertian Karsinoma Nasofaring



A. PENGERTIAN
Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan prediksi difosa rossen muller dan atap nasofaring (Mansjoer, 1999 : 110)
Karsinoma Nasofaring adalah merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher. (Soepardi, 2001 : 146)

B. ETIOLOGI
Sudut lampit dipastikan disebabkan oleh virus Epstien Barr. Faktor ras, letak geografis, jenis kelamin (laki-laki), faktor lingkungan (iritasi bahan kimia, kebiasaan memasak dengan bahan/bumbu masakan tertentu, asap jenis kayu tertentu), danfaktor genetik juga mempengaruhi (Mansjoer, 1999 : 110).
Ras mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya kanker nasofaring. Tanah hijau yang diduga penyebabnya adalah karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin.
Sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti virus EB yang cukup tinggi, faktor lain yang sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini, seperti letak geografis, rasial jenis kelamin, genetik, pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit.
Letak geografis sudah disebutkan diatas, demikian pula faktor rasial. Tumor ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti mungkin ada hubunganya dengan faktor genetik, kebiasaan hidup, pekerjaan dan lain-lain.
Faktor lingkungan yang berpengaruhi adalah iritasi oleh bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu, kebiasaan memasak dengan bahan baku atau bumbu masak tertentu, dan kebiasaan makan makanan terlalu panas. (Soepardi, 2001 : 146)

C. GEJALA DAN TANDA
Gajala karsinoma nasofaring dapat dibagi dalam 4 kelompok yaitu :
1. Gejala nasofaring sendiri
2. Gajala telinga
3. Gajala mata dan syaraf
4. Serta metastasis atau gejala dileher
Gejala nasofaring dapat berupa epitaksis ringan atau sumbatan hidung, untuk ini nasofaring harus diperiksa dengan cermat, kalau perlu dengan nasofaringoskop, karena sering gajala belum ada sedangkan tumor sudah tumbu atau tmor tidak tampak karena masih terdapat dibawah mukosa. (Creeping tumor).
Gangguan pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (Fosa Rosenmuller). Gangguan dapat berupa tinutus, rasa tidak nyaman ditelinga sampai rasa nyeri ditelinga sampai rasa nyeri ditelinga (Otalgia). Tidak jarang pasien dengan gangguan pendengaran ini baru kemudian didasari bahwa penyebabnya adalah karsinoma nasofaring.
Karena nasofaring berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang, maka gangguan beberapa syaraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut karsinoma ini. Perjalanan melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI dan dapat puka ke V. Sehingga tidak jarang gejala diplopialah yang membawa pasien lebih dahulu ke dokter mata. Nevralgia trigeminal merupakan gejala yang sering ditemukan oleh ahli saraf jika belum terdapat keluhan lain yang berarti.
Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran melal foramen jugulare yaitu suatu tempat yang relatif jauh dari nasofaring. Gangguan ini sering disebut dengan sindrom Jackson. Bila sudah mengenai seluruh saraf otak disebut sindrom unilateral. Dapat pula disertai dengan destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian biasanya prognosisnya buruk.
Metastasis ke kelenjar laher dalam bantuk benjolan di leher yang mendorong pasien untuk berobat, karena sebelumnya tidak terdapat keluhan lain.
Suatu keinginan nasofaring yang disebut lesi hiperplastik nasofaring atau LHN telah diteliti di Cina (RRC), yaitu 3 bentuk yang mencurigakan pada orang dewasa, pembesaran nodul dan mukosistis berat pada daerah nasofaring. Kelainan ini bila diikuti bertahun-tahun kemudian akan menjadi karsinoma nasofaring (Soepardi, 2001 : 147 - 148)
Gejala dibagi 4 kelompok :
1. Gajala nasofaring sendiri ; berupa epistaksis ringan pilek, atau sumbatan hidung.
2. Gejala telinga : berupa tinitus, rasa tidak nyaman sampai nyeri di telinga
3. Gejala saraf : berupa gangguan saraf otak, seperti diplopia, perestesia daerah pipi, neuralgia trigeminal parasis/paralisis arkus faring, kelumpuhan otot bahu dan dering terdesak
4. Gejala flu metastasis di leher berupa benjolan di leher (Mansjoer, 1999 : 110)

D. PATOFISOLOGI
Jaringan yang normal terdiri dari sel-sel yang dewasa beraneka ragam besar dan bentuknya. Tiap sel mempunyai nucleus yang besarnyasama. Didalam tiap nucleus tedapat kromosom, mempunyai jumlah tertentu untuk tiap tempat dan tiap kromosom terdapat deuxry Bonuklei (RNA) yang terdapat dalam nucioti dari sel dan pada sitoplasma dari sel itu, yang kerjanya mengaur perubahan dan fungsi.
Perubahan pertumbuhan sel yang abnormal adalah petumbuhan malignan. Pertumbuhan sel yang lain adalah bernigna (tidak maligna). Neoplasma yang jinak teratur didalam kapsul. Tumor tidak menembus pada jaringan yang ada disekitarnya tapi dapat menimbulkan bahaa karena menekan struktur yang vital yang berada didalam suau struktur yang tertutup seperti kepala. Tumor jinak tetap berada pada suatu tempa tidak menimbulkan anak sabar atau metastase dan tempat kembali setelah diangkat seluruhnya.
Tumor ganas tidak mempunyai kapsul yang membungkus dirinya dan karena itu memungkinkan invasi kejaringan disekitarnya, termasuk kedalam pembuluh getah bening dan darah melalui jalur ini sel maligna menyebar kebagian tubuh yang jauh dan tumbuh lagi tumor-tumor baru (Matasase)  (Long, 1996 : 282 – 283).
Karsinoma nasofaring menyebabkan obstruksi hidung dan dapat bermetatase ke leher. Karsinoma sinus maksilaris dan etmoidalis dapat meluas kedinding hidung yang berdekatan dan mudah sekali berdarah. Karsinoma sinus masilaris pada awalnya menyebabkan gangguan pada gigi, efek lain yang dapat timbul berupa obstruksi nasal pendaharan hidung penggeseran mata karsinoma sinus etmoidalis dapat menyebabkan mata menonjol keluar gangguan penciuman dan epitaksis (C. Long, 1996 : 408).

E. HISTOPATOLOGI
Menurut WHO ada 3 bentuk karsinoma (epidermoid) pada nasofaring yaitu :
1. Karsinoma sel skuamosa (berkeratinisasi)
2. Karsinoma tidak berkeratinisasi dan
3. Karsinoma tidak beriferensiasi : limfo epitelioma, sel transisionil, sel spindle, sel clear, anplastik.
Pada penelitian di Malaysia oleh prapthap dkk sering didapat kombinasi dari ketiga jenis karsinoma seperti karsinoma sel skuamosa dan karsinoma tidak berkeratinisasi karsinoma sel skuamosa  dan karsinoma tidak berdiferensiasi karsinoma tidak berkeratinisasi dan karsinoma tidak berkeratinisasi serta karsinoma  tidak berdeferensiasi. (Soepardi, 2001 : 149)

Sumber : (Mansjoer, 1999 : 110)

0 Response to " PENGERTIAN KARSINOMA NASIFARING "

Post a Comment